Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Uncategorized

Ponpes Bani Lathif Cibeber: Tasyakuran Santri, Wujud Nuansa Keagamaan di Tengah Kota Industri Cilegon

434
×

Ponpes Bani Lathif Cibeber: Tasyakuran Santri, Wujud Nuansa Keagamaan di Tengah Kota Industri Cilegon

Share this article
Example 468x60

CILEGON – Pondok Pesantren (Ponpes) Bani Lathif, Cibeber, menggelar acara tasyakuran di Gedung Islamic Center Kota Cilegon pada Minggu, 27 Oktober 2024.

 

Example 300x600

Acara ini menjadi momen istimewa bagi 43 santriwati yang telah berhasil menghafal lima hingga enam kitab, sekaligus menjadi wujud komitmen pesantren dalam menjaga pendidikan agama di tengah geliat industri Kota Cilegon.

 

 

 

H. Alawi, selaku ketua Ponpes Bani Lathif Cibeber dan juga panitia acara tersebut, menekankan bahwa tasyakuran ini bukan hanya perayaan, tetapi juga bentuk pengingat bahwa meskipun Cilegon dikenal sebagai kota industri, nilai-nilai keagamaan tetap tumbuh dan terjaga.

 

“Kota Cilegon memang dikenal sebagai kota industri. Namun, di sela-sela industri ini ada juga nuansa agama, seperti para penghafal kitab Alfiyah dan kitab-kitab lainnya. Ini bagian dari konsep Ponpes Bani Lathif Putra dan Putri di bawah bimbingan Ki Abdul Lathief dan Kiai Muhimmin,” ungkap H. Alawi.

 

H. Alawi berharap kegiatan ini mampu mendorong generasi muda untuk tetap semangat belajar agama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan agama agar tidak terpinggirkan.

 

“Jangan sampai pendidikan agama diabaikan. Semoga melalui kegiatan ini, yang belum memahami agama tergerak hatinya untuk belajar. Kami berharap santri dan santriwati terus belajar hingga usia lanjut, sesuai dengan ajaran Rasulullah: ‘Utlubul ilma minal mahdi ila lahdi’,” ujarnya.

 

Dalam prosesi tasyakuran ini, 43 santriwati Ponpes Bani Lathif Putri tampil di panggung sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian mereka. Mereka telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam menyelesaikan hafalan, meskipun masih berada di jenjang pendidikan Sanawiyah dan Aliyah.

 

“Yang belum selesai menghafal, masih ada waktu untuk menyelesaikan. Yang penting adalah tetap bersemangat dan tidak menyerah,” pesan H. Alawi.

 

Acara ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat Cilegon untuk lebih peduli terhadap pendidikan agama di tengah kesibukan dunia industri. H. Alawi mengajak seluruh pihak, termasuk perusahaan dan masyarakat, untuk bersama-sama memperkuat pendidikan agama agar menjadi pondasi bagi generasi muda.

 

“Kita tidak ingin hanya fokus pada industri saja, tapi juga menjaga nuansa keilmuan dan spiritual. Pendidikan agama harus tetap mendapatkan perhatian, agar kita bisa membentuk generasi yang berakhlak mulia,” tutupnya.

 

Tasyakuran ini menjadi simbol sinergi antara pendidikan agama dan kehidupan di kota industri, serta harapan agar pendidikan agama terus berkembang di Cilegon demi mencetak generasi yang berakhlak dan berilmu. (Elis)

 

 

 

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply