Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kesehatan

Polusi Suara dari PLTU Suralaya Unit 9-10, Kesehatan Anak-anak Terancam

233
×

Polusi Suara dari PLTU Suralaya Unit 9-10, Kesehatan Anak-anak Terancam

Share this article
Example 468x60

Pagi hari di Kampung Kopi, yang seharusnya tenang dan damai, kini tergantikan oleh deru bising mesin dari Unit 9-10 PLTU Suralaya di Cilegon, Banten.

Suara itu menghilangkan harmoni alami seperti kicauan burung dan gelak tawa, menggantinya dengan suasana yang jauh dari ketentraman.

Example 300x600

“Dulu pagi kami tenang. Sekarang, rasanya seperti tinggal di tengah pabrik,” ujar seorang petani yang telah menetap di sana lebih dari 30 tahun.

Bagi warga Kampung Kopi, kebisingan ini bukan sekadar gangguan fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental.

Polusi suara telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, memicu stres yang terus menerus dan mengusik keseimbangan hidup mereka.

Kebisingan dari PLTU termasuk jenis polusi yang sering diabaikan, meski dampaknya sangat besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa paparan suara berlebih dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan stres, memengaruhi kualitas tidur, serta meningkatkan risiko penyakit seperti gangguan pendengaran, jantung, dan diabetes.

Anak-anak di Kampung Kopi merasakan dampak lebih berat karena mereka belum mampu mengelola stres dengan baik.

Banyak yang mengalami kesulitan belajar, gangguan tidur, hingga perubahan perilaku. Lansia pun dilanda kecemasan yang sulit dijelaskan.

Bagi warga, polusi suara ini adalah bentuk ketidakadilan. Mereka merasa hak untuk hidup dalam lingkungan yang tenang—seperti yang dijamin oleh konstitusi—telah dirampas. Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menjanjikan kesejahteraan rakyat terasa hanya sebagai janji kosong.

“Kalau memang ada yang peduli, kami tidak akan terus dibiarkan menderita seperti ini,” keluh salah seorang warga penuh kecewa.

Keinginan warga untuk kembali menikmati kedamaian seperti dulu perlahan memudar. Mereka berharap adanya solusi nyata, bukan hanya janji perbaikan sementara.

Seorang warga hanya bisa menggeleng pasrah saat ditanya harapannya. Ia hanya ingin anak-anak mereka tidak harus tumbuh dalam situasi seperti ini.

Hingga kini, deru mesin dari Unit 9-10 tetap mendominasi Kampung Kopi, menenggelamkan doa dan harapan warganya.

Meski sudah menunggu lama, tanggapan dari pihak PLTU belum juga mereka terima, sementara kebisingan terus menyelimuti kehidupan mereka.

Sumber: Pram (Kompasiana)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply